Langsung ke konten utama

Postingan

Taat Bersamamu, Ayah...

TAAT BERSAMAMU , AYAH…   Seperti hari-hari biasanya. Setiap pukul tiga pagi, mata keluarga Hamdan sudah terbelalak bangun dari hangatnya selimut kumuh yang menyelimuti tubuh mereka saat terlelap. Menyibak kesunyian dengan kesibukkan mereka. Di saat tetangga yang lain terbang dengan mimpi-mimpi tidurnya , keluarga Hamdan harus sudah menginjakkan kakinya. Turun dari tempat tidur mereka. Hidup ini memang keras! Menindas mereka yang berleha-leha tidak mau bekerja. Sekerumunan angin berlari kencang dari arah barat, menerobos celah-celah dinding bambu rumah Hamdan. Menyelusup masuk ke tulang-tulang keluarganya. “Brrrrr…!!!” Hamdan bersedekap kedinginan di pintu belakang, ia hendak berwudhu untuk bercakap-cakap dengan Allah. Sementara Emak dan Bapaknya sibuk menyiapkan barang dagangan mereka pagi ini. Emak Sri membungkusi sayur-sayur matang yang terkulai hangat di kuali hitam, sedangkan   Pak Santos menyiapkan motor dan obrok tuanya .       ...

Nikah nggak siap! Maksiat terus melahap! #UdahPutusinAja!

                                                        Udah Putusin,Aja!                                                   Oleh Diah Ayu Hidayah Harum bunga mawar putih yang di tanam di pinggir halaman terberai terbawa angin sampai ke penciumannya. Menghadirkan ketenangan yang menggugah jiwa-jiwa labil di pagi hari. Meja belajar yang tertata begitu rapi dan novel karya Tere Liye berdiri di sudut-sudutnya. “Dia itu seperti air bah! Melibas begitu saja dan dimana saja. Ia da...

Untuk Sebuah Nama

Untuk Sebuah Nama..... Untuk sebuah nama... Izinkan diri terus memperbaiki diri Menepati tiap ranting janji Yang tertutup kabut kemunafikkan diri Yang tak pernah menengok kehidupan abadi Untuk sebuah nama.... Walau butiran bening memaksa keluar dari pelupuk mata yang bulat Tak satu pun tindakan jangkung ku perbuat Selalu kembali dalam kesalahan Bagai hutan rimba yang kelam Untuk sebuah nama.... Sedemikianlah diriku ! Jika kau tak dapat membimbing, maka pergilah! Jika tak dapat menerima, cukuplah diam! Jangan kau koyak luka yang menganga Aku adalah tulang yang bengkok Jangan mencoba meluruskan Tak khayal, aku kan patah.

Nikmat dan hikmahnya diputusin!!

Selamanya Cinta Oleh Anna Humaira Aliawati Lagi-lagi aku bertemu dia. Inilah yang paling kubenci. Aku benci tatapan sinis yang seolah ingin menerkamku. Aku selalu berpikir keras, seberat apa kesalahan yang telah kuperbuat padanya. Dan lagi-lagi, tak juga aku temukan jawaban itu. “Rey, duduk sebelah sana yuk?” suara Dania membuat ku sedikit terkejut. “Mm... Eh... Aduh... Tiba-tiba perutku mules, Dan. Kamu pesan duluan aja." aku langsung berbalik arah, buru-buru meninggalkan Dania yang tengah sibuk mencari tempat yang nyaman. “Loh, Rey? Katanya kamu lapar, kok...” belum selesai Dania melanjutkan kalimatnya. “Nanti aku nyusul.” aku semakin mempercepat langkahku tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dania. Dania berbalik, berjalan menuju bangku panjang di pojok kantin. “Mbak, bakso satu, es teh satu.” Dania mulai memesan makan siangnya. Ia melepaskan pandangan ke sekeliling kantin. Sejurus kemudian, matanya beradu pandang dengan seorang gadis yang ternyata...