TAAT BERSAMAMU , AYAH… Seperti hari-hari biasanya. Setiap pukul tiga pagi, mata keluarga Hamdan sudah terbelalak bangun dari hangatnya selimut kumuh yang menyelimuti tubuh mereka saat terlelap. Menyibak kesunyian dengan kesibukkan mereka. Di saat tetangga yang lain terbang dengan mimpi-mimpi tidurnya , keluarga Hamdan harus sudah menginjakkan kakinya. Turun dari tempat tidur mereka. Hidup ini memang keras! Menindas mereka yang berleha-leha tidak mau bekerja. Sekerumunan angin berlari kencang dari arah barat, menerobos celah-celah dinding bambu rumah Hamdan. Menyelusup masuk ke tulang-tulang keluarganya. “Brrrrr…!!!” Hamdan bersedekap kedinginan di pintu belakang, ia hendak berwudhu untuk bercakap-cakap dengan Allah. Sementara Emak dan Bapaknya sibuk menyiapkan barang dagangan mereka pagi ini. Emak Sri membungkusi sayur-sayur matang yang terkulai hangat di kuali hitam, sedangkan Pak Santos menyiapkan motor dan obrok tuanya . ...
Jika umurmu tak sepanjang dunia, maka sambunglah dengan tulisan..